Ahli geologi menilai gempa Mentawai 7,2 SR Senin lalu sudah diprediksi karena kawasan ini memang menyimpan energi besar. Namun kemungkinan akan ada gempa utama lain.
Ahli geologi menilai gempa Mentawai 7,2 SR Senin lalu sudah diprediksi karena kawasan ini memang menyimpan energi besar. Namun gawatnya kemungkinan akan ada gempa utama lain.
Gempa Mentawai mulai terjadi Senin (25/10) pukul 21:42 WIB berlokasi di 78 kilometer Barat Daya Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera Barat berkekuatan 7,2 SR. Gempa susulan terjadi setidaknya 10 kali, hingga 26 Oktober pukul 10.28 WIB terjadi di lokasi sekitar gempa utama.
Associate Profesor di Jurusan Teknik Geofisika ITB Teuku Abdullah Sanny saat dihubungi INILAH.COM menyatakan daerah Mentawai memang memiliki energi bumi yang besar, sehingga seringkali melepaskan energinya.
Peristiwa tersebut sudah lama diketahui dan diperkirakan ahli geofisika. Namun, kita belum tahu kapan pastinya energi patahan itu akan terlepas, katanya saat dihubungi kemarin. Penyebab gempa Mentawai itu adalah pergerakan lempeng Anstralia dan Eurasia.
Sanny mengatakan tidak menutup kemungkinan akan ada gempa utama lain. Kemungkinan ada meskipun kecil. Tapi gempa akan terus terjadi di sepanjang kepulauan Mentawai karena energi yang terkumpulkan sangat besar, katanya.
Wilayah yang rawan itu adalah di sebelah barat daya pulau Sumatera yaitu di Simelut, Nias, Mentawai hingga Enggano. Siklus gempa itu terjadi antara 150 tahun hingga 500 tahun. Pergerakan lempeng normal mencapai 7 hingga 11 centimeter tiap tahun.
Sanny mengatakan patahan sepanjang Mentawai adalah zona subduksi atau pembangkit energi gempa. Patahan itu sejajar dengan pulau Sumatera dan Bukit Barisan. Energi yang dilepaskan biasanya muncul di patahan wilayah Mentawai, Simelu dan sepanjang pulau Enggano.
Lempeng Pasifik memang rawan gempa karena proses gesekan lempeng samudera dengan benua. Akibatnya bisa menghasilkan magma yang mengaktifkan gerakan di area subduksi depan gunung api.
Indonesia sendiri berada di wilayah rawan gempa karena berada di atas tiga kumpulan lempengan yang saling berkaitan. Ketiga lempeng tersebut adalah Australia, Pasifik dan Eurasia yang bertemu di wilayah laut Banda, jelas Sanny.
Kepala Bidang Gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suharjono mengatakan gempa Mentawi awal pekan kemarin itu akan diikuti gempa susulan lain. Ini terkait dengan lempengan besar di sepanjang wilayah itu. Kekuatan gempa besar akan menciptakan banyak gempa susulan, kata Suharjono.
Proses akumulasi energi akan membuat pergerakan lempeng saling bertemu. Akibatnya, timbul patahan yang tidak tahan dengan dorongan itu. Pada saat patah, maka terjadi gempa bumi. Proses ini, kata Suharjono akan terus berlangsung. Selama bumi berputar dan arus konveksi di bawah bumi tetap ada, maka kulit bumi akan bergerak terus menerus.
Tapi Suharjono menegaskan gejolak patahan gempa besar masih belum bisa diprediksi di Indonesia. Hal itu karena kita tidak memiliki catatan historis gempa dalam kurun 500 tahun terakhir.
Gempa itu terjadi karena ledakan energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun. Oleh karena itu, gempa besar yang terjadi saat ini akibat dari energi yang terendap dari masa lalu. Kita tidak bisa memperkirakan secara rinci, karena tidak punya catatan sejarah, kata Suharjono. [mdr]
Gempa Mentawai mulai terjadi Senin (25/10) pukul 21:42 WIB berlokasi di 78 kilometer Barat Daya Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera Barat berkekuatan 7,2 SR. Gempa susulan terjadi setidaknya 10 kali, hingga 26 Oktober pukul 10.28 WIB terjadi di lokasi sekitar gempa utama.
Associate Profesor di Jurusan Teknik Geofisika ITB Teuku Abdullah Sanny saat dihubungi INILAH.COM menyatakan daerah Mentawai memang memiliki energi bumi yang besar, sehingga seringkali melepaskan energinya.
Peristiwa tersebut sudah lama diketahui dan diperkirakan ahli geofisika. Namun, kita belum tahu kapan pastinya energi patahan itu akan terlepas, katanya saat dihubungi kemarin. Penyebab gempa Mentawai itu adalah pergerakan lempeng Anstralia dan Eurasia.
Sanny mengatakan tidak menutup kemungkinan akan ada gempa utama lain. Kemungkinan ada meskipun kecil. Tapi gempa akan terus terjadi di sepanjang kepulauan Mentawai karena energi yang terkumpulkan sangat besar, katanya.
Wilayah yang rawan itu adalah di sebelah barat daya pulau Sumatera yaitu di Simelut, Nias, Mentawai hingga Enggano. Siklus gempa itu terjadi antara 150 tahun hingga 500 tahun. Pergerakan lempeng normal mencapai 7 hingga 11 centimeter tiap tahun.
Sanny mengatakan patahan sepanjang Mentawai adalah zona subduksi atau pembangkit energi gempa. Patahan itu sejajar dengan pulau Sumatera dan Bukit Barisan. Energi yang dilepaskan biasanya muncul di patahan wilayah Mentawai, Simelu dan sepanjang pulau Enggano.
Lempeng Pasifik memang rawan gempa karena proses gesekan lempeng samudera dengan benua. Akibatnya bisa menghasilkan magma yang mengaktifkan gerakan di area subduksi depan gunung api.
Indonesia sendiri berada di wilayah rawan gempa karena berada di atas tiga kumpulan lempengan yang saling berkaitan. Ketiga lempeng tersebut adalah Australia, Pasifik dan Eurasia yang bertemu di wilayah laut Banda, jelas Sanny.
Kepala Bidang Gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suharjono mengatakan gempa Mentawi awal pekan kemarin itu akan diikuti gempa susulan lain. Ini terkait dengan lempengan besar di sepanjang wilayah itu. Kekuatan gempa besar akan menciptakan banyak gempa susulan, kata Suharjono.
Proses akumulasi energi akan membuat pergerakan lempeng saling bertemu. Akibatnya, timbul patahan yang tidak tahan dengan dorongan itu. Pada saat patah, maka terjadi gempa bumi. Proses ini, kata Suharjono akan terus berlangsung. Selama bumi berputar dan arus konveksi di bawah bumi tetap ada, maka kulit bumi akan bergerak terus menerus.
Tapi Suharjono menegaskan gejolak patahan gempa besar masih belum bisa diprediksi di Indonesia. Hal itu karena kita tidak memiliki catatan historis gempa dalam kurun 500 tahun terakhir.
Gempa itu terjadi karena ledakan energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun. Oleh karena itu, gempa besar yang terjadi saat ini akibat dari energi yang terendap dari masa lalu. Kita tidak bisa memperkirakan secara rinci, karena tidak punya catatan sejarah, kata Suharjono. [mdr]
Share
0 komentar:
Posting Komentar